XIMPLAH-XIMPLAH : YAMAHA XMAX 250

XIMPLAH-XIMPLAH : YAMAHA XMAX 250

Di malam yang bertemankan jangkrik dan entah apapun serangga yang bisa mengeluarkan berbagai suara di luar kamar, saya mengetik ini dengan seutas senyum masih tertambat di wajah saya.
 
Yamaha benar-benar menuntaskan Pe-eR di saat ketiga rivalnya mengalami kegagalpahaman; memberi apa yang selera pasar mau, terutama secara desain.
(Edit : Kedua rivalnya mungkin lebih tepatnya, karena Kawak tampak gak minat main di metik..)
 
Mau metik kecil yang gak kecil-kecil amat? Ada tuh NMax.
 
Mau yang gedean? Nah Ini Dia..

AWAL PERTAMA JUMPA XAMA XI XEMOX YAMAHA XMAX 250

‘Ayo lah kita berangkat ke RS, sekalian tukeran motor’, kata Bang Ja’i.
 
Saya yang baru saja selesai melahap sepiring Udang Hotplate lezat di warungnya itu, setengah terkejut.
 
Okelah, saya akui memang saya sempat menggoda dia saat XMax nya baru datang ke rumah, dengan berkata ‘pengen ikut icip-icip’, yang mana itu jelas Cuma Canda®.
 
Tetapi ternyata saat Bang Ja’i menyeriusi lelucon saya, saya malah kagok sendiri. Ebusseett..
 
Lalu dimulailah kursus kilat tentang bagaimana menyalakan XMax yang berfitur keyless ini, dan dengan sedikit penyesuaian awal posisi berkendaranya, kami lalu gas ke RS Sadewa.
 
Sejujurnya saya merasa ‘ewuh’ melihat Bang Ja’i harus menaiki Shogun busuk saya, tapi ya emmmm gimana lagi yaa.. 😛

DIBOLEHKAN MENJAMAH XI XEMOX YAMAHA XMAX 250

Setelah menjenguk builder custom andalan kami yang baru saja mendapat tambahan momongan, si Abang lalu berkata
 
‘Lanjut ke mana lagi nih kita? Lewat arah Transmart aja apa, ntar ambil tembusan ke utara, keluar di ringroad, langsung gas arah pulang deh..’
 
‘Okelah boleh Bang’ kata saya, masih setengah tidak enak, setengah bingung. Gimanapun, disuruh membejek motor yang odometernya baru dibawah 500 Km kinyis, masih ada rasa was-was menghantui.
 
‘Gapapa bener nih boleh digas?’ Tanya saya, kembali mencari persetujuan.
 
‘Daah gass ajaa..’
 
Kalau ada persetujuan di dunia ini yang paling membahagiakan untuk saya, salah satunya adalah persetujuan penuh seorang biker yang rela motor kesayangannya saya coba.
 
Keluarlah kami dari parkiran Sadewa, dengan saya mulai tersenyum-senyum gila.
 
Jok XMax yang Xtra lebar dan Xtra tebal, walaupun membuat tubuh 174 cm saya sedikit berjinjit, tidak bisa menghapus cengiran konyol saya yang mulai merekah.

MENUNGGANGI XI XEMOX YAMAHA XMAX 250 DENGAN PENUH GAIRAH

Melewati Babarsari, saya masih menahan diri untuk tetap berada di belakang Bang Ja’i ft. Shogun Butut.
 
Tetapi setelah memasuki jalan raya arah bandara, khilaflah sudah saya. Throttle dipuntir, GPRS style. (Gas Pol Rem Seikhlasnya)
 
Untuk badan sebongsor ini, manuver XMax masih terasa sangat lincah dan presisi, tentunya memakai teknik countersteering untuk mengarahkan kemudinya.
 
Bobotnya membuat XMax super stabil, dan seperti kebanyakan metik, pusat gravitasi cenderung condong ke belakang. Saya memilih untuk duduk cukup maju di joknya yang mewah ala King Size Bed, mencari titik tengah gravitasi yang lebih optimal untuk bermanuver.
 
Angkatan awal alias torsi awal, memang sedikit agak lemas. Perlu puntiran tertentu untuk bisa segera mengangkat si gambot ini agar segera melesat.
Tapi saya gak benar-benar tahu gimana rasa standar tarikan mesin XMax ini, karena di unit ini sudah dipasangi Veloscope dan knalpot aftermarket Tridente.
 
Soal kenyamanan, hmm, kalau metik seharga CBR250RR gak nyaman, bakalan lucu juga 😛
Selain jok Xtra besar dan empuk yang beberapa kali saya utarakan di atas, bantingan suspensinya cukup lembut saat melewati barisan polisi tidur (udah tidur, baris lagi), tanpa mengorbankan kestabilan liukan.
Posisi berkendara tegak natural, membawa kenikmatan untuk berkendara (relatif) jauh. Dengan ruang kaki Xtra leluasa, kamu bisa memilih berbagai pose untuk dinikmati.
 
Remnya pastinya cukup pakem untuk mayoritas pengendara XMax, tapi untuk bagaimana cara saya pribadi berkendara, akan lebih bagus bila depannya didukung 4 atau 6 piston bermaster radial. Makin sedaapp kalau bisa lebih sigap menghentikan momentum bongsornya badannya 😍

TAPI KENAPA DIA..

Terlepas dari sederet fitur mewah yang mulai berlomba disematkan pabrikan di produk flagshipnya, ada satu kekurangan yang saya rasakan tadi;
 
Roda depannya terasa sekali understeer alias bablas ngebuang, sewaktu menikung dengan cepat.
 
Mungkin kawan-kawan owner XMax ada yang tahu kenapa? Apa ada ‘perlakuan khusus’ untuk bisa lebih presisi di tikungan?

NAKSIR PUNYANYA ORANG NI YEE

Sesampainya kepada waktu perpisahan dengan si Xemox, saya agak menyesal mengicipinya.
 
Malah bikin pengen saja.
 
Sebuah kemewahan di atas dua roda saat ini, yang seakan selalu melambaikan tangannya dan berkata ‘Kapan Kita Kemana? Ayo turing!’
Special thanks untuk Bang Ja’i, moga warungnya makin lariss, makin tebel profitnya, barokah berlimpah!

This Post Has 2 Comments

    1. Knalpot yang sekarang malah pakenya Akrapovic Koh, lebih khedon lagi. Hahaha

Leave a Reply

Close Menu
Su\'a Cravens Authentic Jersey