70 Menit Jogja – Semarang, Tanpa Lampu dan Hujan (Part I)

70 Menit Jogja – Semarang, Tanpa Lampu dan Hujan (Part I)

Bersiap untuk Menuju ke Semarang Bersama Suzuki FXR 150

“Faster, faster, faster, until the thrill of speed overcomes the fear of death.” – Hunter S. Thompson
Desember 2014.
Jam menunjukkan pukul 22.30 tepat. Aku sudah bersiap-siap untuk mengeluarkan Mad Max dari parkiran kosku, menuntunnya keluar menuju jalan raya, di dekat Masjid Siswa Graha.
 
Aku tak ingin membiarkan penduduk Pogung Kidul terganggu istirahatnya, hanya karena gemuruh knalpot nan gahar bagaikan batuknya Merapi. Pikirku dengan menyalakan Mad Max sedikit lebih jauh dari deretan rumah-rumah nan padat akan sedikit membantu.
 
Setelah memakai KYT C4 Race bervisor beningku, aku lalu mengenakan jaket dan sepatu, lalu memastikan ransel yang kuikat sedemikian rupa menjadi seatbag telah terikat kuat di buntut Mad Max.
 
Aku lalu mendorongnya keluar menjauhi kosku, menuju ke pinggir jalan yang lebih besar, di lelapnya malam.
 
Setelah sampai di pinggir jalan, aku lalu menarik dan menghembuskan nafas, bersiap menyelah kick-starter biadab si Max.
 
Engkol ini terlalu banyak memakan korban. Membuat tulang keringku memar, sepatuku robek, betis temanku luka, dan tak terhitung legiun sandal yang putus karenanya.
 
Begitu kerasnya selahannya, sampai terkadang aku memilih menaikinya saja saat menyelahnya, cara instan menambah momentum ayunan.
“BBLAARRR BLARRR BLARRR BLARR”, gelegar Max menyala. Sebuah kelegaan tersendiri setiap kali ia berhasil menyala, mengingat perjuangan untuk menyalakannya setiap waktu.
 
Aku lalu membiarkan Max langsam sebentar, sembari meluncurkan tubuhku di atas joknya, meracik ‘posisi nyaman’ sebelum benar-benar mulai berkendara.
 
Setelah rasa ‘klik’ itu kudapat, aku lalu mengarahkan B-Pro 15° itu menuju Jl. Monjali.
Kami berangkat.

Menuju ke Semarang Bersama Suzuki FXR 150

“Mau ke mana?” Tanya kalian?
Aku berencana menuju ke Pati, menemui beberapa kawan.
Mengingat bagaimana kondisi Max yang bagaikan tambang emas tilang berjalan, aku selalu memilih perjalanan malam untuk menghindari “oknum” menguras dompetku.
 
Walaupun tujuan akhirku adalah Pati, aku akan menuju Semarang terlebih dahulu, menemui seorang kawan yang akan menemani ke Pati.
 
Dalam beberapa puntiran gas, aku sudah sampai di lampu merah perempatan Denggung, Sleman.
Sambil berhenti di atas Max yang berlangsam cukup tinggi, aku mengamati sinar lampu depanku mulai menerang-meredup, menerang-meredup.
 
“Aduh ngopoo iki..” batinku. Waktu sudah terlalu malam untuk menemukan bengkel yang buka, dan aku malas berhenti “hanya untuk hal seperti ini”.
 
“Pokoknya mau lampu mati kek, tetep gass!”

Melewati Muntilan – Magelang Bersama Suzuki FXR 150

Sepersekian detik begitu pendaran hijau dari traffic light menyala, kulesatkan Max secepat kilat, hitung-hitung berlatih reaction time ala drag.
 
Kami terus melaju ke utara, melewati Jembatan Tempel, melibas jalan super lebar nan berkelok, menuju Muntilan.
 
Sebelum memasuki kota Muntilan, kondisi jalan cukup bergelombang. Aku tak peduli. Kemudi bergoyang bagaikan pendulum ke kanan dan ke kiri, kuanggap menyenangkan hati. Adalah tabu untuk mengendurkan gas hanya karena hal seperti itu, prinsipku.
 
Setelah melewati Muntilan kota menuju Magelang kota, kembali kami menemui kondisi jalan yang bergelombang. Kembali gas tetap kupuntir dalam-dalam, tak kuturunkan.
 
Aku tak tahu di kecepatan berapa kami melaju, karena Max tak memiliki speedometer. Di masa inilah aku mulai terbiasa mengukur kecepatan dengan satuan menit, bukan kilometer per jam.
 
“BLAAAAAAAAAAAARRRR” kami melayang di jalan bergelombang tanpa ampun.
 
“Prepet prepet pett!” Aku melihat lampu depanku akhirnya mati. “Duh..” batinku. “Akhirnya gak lampuan juga.”
 
Berhenti di lampu merah depan Artos Magelang, aku hanya melongok sepintas ke batok trail yang Max pakai, belum benar-benar mengetahui kenapa lampunya mati.
 
Hal lucu yang baru kami ketahui di Pati keesokan sorenya, penyebab lampu Max mati adalah.. Bohlamnya copot. Seperti yang dimuat di blog Skalorman Ibat, di foto ini.
 
Kawan-kawan semua tertawa sambil geleng-geleng. “Kok bisa??”
 
Perjalanan belum berakhir.. (To Be Continued)

This Post Has One Comment

Leave a Reply

Close Menu